Begini Ciri Fintech IIlegal

by

FAJAR.CO.ID–Financial Technology (fintech) seolah tidak pernah mati. Ditutup satu, tumbuh tiga. Begitu seterusnya. Meskipun demikian, Otoritas Jasa Keungan (OJK), semangatnya tak pernah surut untuk memerangi fintech ilegal di Tanah Air.

“Fintech ilegal seperti monster. Ketika dipenggal, tumbuh dua sampai tiga kepala. Ya malah semakin banyak,”ujar Deputi Pengaturan Penelitian dan Pengembangan Fintech OJK, Munawar di Jakarta, kemarin (13/9).

Lanjut Munawar, apabila mendapatkan pesan seluler atau SMS (pesan singkat), dapat diduga fintech ilegal. Meskipun telah nomor HP telah diblokir, tetap mereka bergerilya mencari mangsa lewat nomor HP baru.

“Percuma juga diblokir karena itu adalah mesin, ada dugaan kalau sering dikirim SMS pinjaman daring berarti nomor kita pernah digunakan pihak lain untuk transaksi tidak bertanggung jawab,” ucap dia.

Selain itu, ciri lainnya adalah menagih dengan cara kasar dan cenderung mempermalukan peminjam. Dia mencontohkan, ada masyarakat yang meminjam lewat fintech saat jatuh tempo ditagih, mulai dari cara santun, keras, hingga teror setiap satu jam.

Sadisnya lagi, mereka mengirim pesan ke seluruh nomor kontak yang ada di HP mulai dari tetangga, saudara hingga teman.

“Bahkan ada yang sempat foto bugil disebar ke seluruh nomor kontak,” kata dia.
Ia mengingatkan data penting di HP yang boleh diakses sebaiknya hanya tiga yaitu kamera, mik, dan lokasi. “Di luar itu tidak boleh apalagi jika tak ada hubungan dengan peminjaman, misalnya nomor kontak, foto, hingga data HP,” ujarnya.

Kalau ada yang mengatakan HP aman tidak akan hilang, kata dia, bukan itu persoalannya. Menurutnya fintech ilegal sudah bisa mengakses data penting di HP.

Terpisah, ekonom Institue for Development of Economics and Finance (Indef), Nailu Huda mengatakan, maraknya fintech ilegal di di Indonesia karena penggunaan internet yang cukup tinggi.

Selain itu banyak masyarakat kita yang tidak memenuhi syarat meminjam uang di bank akhirnya memilih fintech Peer To Peer (P2P) Lending, ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (13/9).

Untuk memerangi fintech ilegal, Huda meminta OJK harus rajin mengecek keberadaan fintech P2P Lending ilegal dan temuan tersebut diumumkan ke masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat menjadi dan tidak meminjam dana dengan fintech tidak berizin, tukas dia.

Hingga saat ini, OJK mencatat sebanyak 1.350 fintech ilegal telah ditutup, dan server mereka kebanyakan berada di luar negeri.(fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *